Skip to main content

Nepotisme

Nepotisme Dalam Demokrasi Lokal 

            Keberadaan pemerintah daerah dalam negara kesatuan Republik Indonesia dengan pemberian kewenangan otonomi daerah yang luas, merupakan keputusan politik nasional yang sangat berarti dan memang dikehendaki oleh rakyat indonesia. Seiring dengan diberlakukannya kebijakan otonomi daerah yang luas sejak 2001, muncul fenomena kasus korupsi yang banyak ditemukan di daerah. Otonomi daerah yang mulanya diasumsikan sebagai upaya pemerintahan pusat untuk lebih memberdayakan masyarakat dengan mengurangi sentralitas hasil sumber daya alam daerah (SDA), ternyata juga menjadi lahan dimana praktek korupsi berlangsung. Jika dahulu sebelum otonomi daerah praktek korupsi begitu terpusat, tapi sekarang sudah terjadi perpindahan penyakit korupsi yang merambat ke tingkat daerah. Dari sini implementasi desentralisasi atau otonomi daerah dinilai lebih memicu terjadinya penyebab praktik korupsi yang parah dibandingkan saat era orde baru.

Samahalnya dengan nepotisme yang merupakan bagian dari jalannya sejarah yang hingga saat ini masih menjalar sebagai bentuk kebiasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dengan kondisi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang demikian, maka otonomi daerah yang diyakini akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu menyejahterakan rakyat daerah sampai ke pelosok, hanya akan menjadi mimpi yang tidak pernah menjadi sebuah kenyataan. Dalam tulisan ini akan lebih banyak membahas mengenai praktik nepotisme yang terjadi di sebuh pemerintahan desa tampat dengan sejarah desa antara ki trincing dan nogo kikik sebagai pandangan sejarah.

 Mungkin menjadi wajar anggapan penduduk desa atau seorang awam yang tinggal di desa tersebut melihat hal seperti praktik nepotisme, dan korupsi yang sangat lihai dilakukan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, hingga pada saat ini menjadi suatu hal yang biasa dalam pandangan masyarakat setempat. Hal tersebut barangkali juga terjadi di daerah-daerah lain dengan motif yang hampir sama. Disini pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengawalan terhadap pemerintahan desa menjadi sangat penting, untuk menghindari terjadinya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dengan keleluasaan pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya sendiri, sehingga terciptalah pemerintahan desa yang dikendalikan segelintir pejabat desa itu sendiri.

Menjadi contoh nyata dalam pembentukan struktural pemerintahan desa, dengan dibukanya pendaftaran perangkat desa seperti kasun yang diikuti oleh berbagai orang disana ternyata pada ujung-ujungnya yang terpilih adalah sanak sendiri, yang merupakan anak atau keponakan pribadi. Entah itu merupakan hal yang lumrah atau memang masyarakat yang sudah cukup kecewa terhadap aparatur desa, dan atau dari masyarakatnya sendiri yang memang tidak peduli terhadap pembangunan desanya, stigma tersebut hanyalah dugaan semata entah apa yang terjadi dalam masyarakat yang masih memegang paham kolosal tersebut. Bentuk demokratisasi dalam pemerintahan desa belumlah terlaksana secara merata, untuk memberikan hak dan kesempatan bagi setiap masyarakat desa yang ada untuk menerjunkan diri dalam bidang pemerintahan. lain hal jika dalam pemerintahan daerah dikuasai hanya oleh keluarga terdeka, beda sebutannya kalau itu, bisa jadi itu akan menjadi sebuah rumah tangga dalam bingkai pemerintahan desa.

Bentuk pemerintahan yang seperti itu sudah sangat tidak wajar, dan sangat melukai hak progratif masyarakat setempat. Bahkan mencederai demokrasi yang sudah menjadi kesepakatan masyarakat indonesia. Pentingnya paham politik dalam masyarakat menjadi sangat penting untuk diberikan, dalam menganalisis, mengawal dan mengkritisi setiap hal yang dilakukan pemerintahan desa yang dianggapnya tidak sesuai atau menyeleweng. Namun melihat realita sosial yang terjadi menjadi memprihatinkan dengan kondisi masyarakat yang acuh terhadap keterlibatan pelaksanaan pemerintahan desa, seperti kalangan pemuda yang seharusnya membuka fikirannya terhadap hal tersebut. Dengan mengkritisi dalam bentuk merekonstruksi kembali pemerintahan desa tersebut akan menciptakan pemerintahan yang baik seperti yang dicita-citakan setiap warga negara. karena hanya dengan melawan akan terciptanya sebuah kebenaran dan keadilan.

Comments

Popular posts from this blog

cinta

  kompleksitas mencintai Oleh: D E P Diawali dengan sebuah pertanyaan, Bagaimana cinta itu hadir dalam diri seseorang?. seorang awam menjawab “ tentu ketika aku melihatnya seseorang selama lebih dari seratus kali aku tidak merasa bosan dan cinta itu tetap hadir ”jawaban itu tidaklah salah, dan juga bisa saja benar bagi sebagian orang yang meyakini demikian. Saya pernah bertanya kepada soeroang teman “ apa itu cinta ? Dia menjawab “cinta   dalam bahasa yunani yang berarti tali, maka timbullah anggapan bahwasannya ketika seseorang sedang mengalami sebuah permasalahan dalam cinta, dapat diibaratkan sebagai sebuah tali yang putus. Seiring seseorang menyebutnya sebagai istilah putus cinta” Lebih dalam lagi ada tiga kata Cinta yang digunakan dalam bahasa yunani, diantaranya eros , philia , dan agepe . Tiga nama tersebut adalah sebuah perwujudan daripada para dewa yang diyakini sebagai bentuk penggambaran dari cinta itu sendiri. Eros yang digambarkan sebagai bentuk cinta yan...

Pendidikan Sedang Sakit

     Pendidikan Sedang Sakit Oleh: D E P Pendidikan sebagai jembatan dalam mencerdaskan generasi bangsa, pendidikan memiliki peranan yang begitu penting dalam kemajuan sebuah Negara. Apabila masyarakat memiliki pendidikan yang lebih baik maka kemajuan berfikir setiap orang pasti akan berkembang, sehingga orang mampu menyumbangkan ide atau gagasannya sebagai bentuk memajukan sebuah Negara. Pendidikan merupakan bekal yang paling utama dalam sebuah kehidupan setiap orang. Yang mana dengan pendidikan seseorang mampu membedakan mana yang baik dan buruk, dan mana yang boleh dilakukan dan tidak. Akan tetapi saat ini kondisi pendidikan sangat memprihatinkan, pendidikan hanya menghasilkan orang pintar bukan orang terdidik. Saat ini banyak sekali terjadi tindakan-tindakan yang memalukan di negeri ini sepertihalnya korupsi, suap dan masih banyak lagi yang terjadi lainnya. Namun anehnya para pelaku tindakan tersebut adalah para orang-orang pintar yang bergelar sarjana. Ketika kit...